Rabu, 06 April 2016



Sejatinya Manusia

Di saat kita bercermin, kita akan melihat banyangan tubuh kita dicermin. Ketika kita menggerakkan anggota badan kita, maka bisa dipastikan banyangan itupun ikut bergerak. Dan Jika kita diam, maka bisa dipastikan pula bayangan itupun ikut diam. Bayangan kita tidak bisa bergerak dengan sendirinya, ia hanya mampu bergerak jika si empuhnya banyangan itu bergerak.   

Ketika kita melihat bayangan diri kita dicermin, spontanitas dalam hati kita mengatakan bahwasanya “bayangan itu adalah saya”. Pernahkah kita bertanya, yang manakah diri kita? “yang di dalam cermin atau yang bercermin”. Sejatinya bayangan kita bukanlah kita yang sesungguhnya, adanya banyangan itu adalah nisbi dan tergantung pada sesuatu yang menimbulkan bayangan tersebut.

Bahwa sejatinya manusia merupakan cerminan atau bayangan dari wujud-Nya (dalam kitab Sirul Asrar). Manusia tidak mampu meng ’ada’ kan dirinya sendiri, jika tidak diadakan oleh-Nya. Dan manusia tidak mampu ‘bergerak’ jika tidak digerakkan oleh-Nya. Manusia adalah ‘bayangan’-Nya. Sebagai bayangan, tentu manusia bukanlah “DIA”. Sebagai bayangan tentu tidak sama dengan “DIA”. Sebagai bayangan tentu tidak ‘menjadi’ satu dengan-Nya. Namun sebagai ‘bayangan’, manusia bisa “manunggal” kepada-Nya.

Cara “manunggal” kepada-Nya adalah dengan rasa, karena kehadiran dan keberadaan-Nya adalah sangatlah rahasia. Tidak bisa dijangkau oleh indra lahiriah kita, dan hanya dengan “rasa”  kehadiran dan keberadaan-Nya bisa dikenali dan diketahui.

Rasa ini sifatnya ghoib, tidak bisa terlihat atau tercium oleh indra lahiriah kita, tidak bisa dijelaskan oleh huruf dan kata-kata, hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah merasakan. Seperti manisnya gula. Bisa merasakan manisnya gula, apabila sudah mencicipinya. Kita meyakini bahwa rasa gula itu manis, tetapi kita tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata tentang manis itu bagaimana, seperti apa, sebelum dirinya sendiri mencicipi gula. Jadi rasa itu ghoib, tetapi ada, adanya hanya bisa dirasakan.