Rabu, 20 April 2016



MAKNA KATA CROT



Status facebook saya (Romo Muhib) yang berjudul “Undangan Perkawinan” tertulis tanggal 16-04-2016 membawa pada suatu arah diskusi dan tanya jawab yang mungkin menarik untuk Anda simak. Antara saya, Afnan Hidayat Co’minx dan Ana Faichah. Semoga hasil dari diskusi dan tanya jawab ini bisa menambah pengetahuan Anda mengenai kata CROT. Ternyata inilah kata terunik yang tak ada tandingannya. Dijadikan bahasa Inggris juga gak ada padanan katanya, dicarikan referensi ilmiahnya juga tetap tak terjangkau. Inilah kata yang meliputi segala sesuatu….hmmmh…meliputi segala sesuatu? kok kayak bunyi ayat saja….

Barangkali ada diantara Anda yang lebih paham mengenai hal ini, silahkan untuk mengikuti diskusi yang menarik ini........he..he..he..he..he

Diskusi ini berawal dari salah satu komentar Afnan Hidaya Co’minx di status facebook saya, ia menulis dalam komentarnya begini: Semua tergantung kemampuan.

Saya balas komentarnya: Kalau soal kemampuan, minta urut mak erot, dijamin mampu....ha..ha..ha..ha..ha

Afnan: Lambemu (bibirmu) crut........kekekekekekek

Saya: Kalau “crut” itu alirannya kurang terasa karena lemah, yang lebih hebat dan terasa sampai ke tulang sum-sum itu “crot”....wkwkwkwk

Ditengah-tengah kami sendang asyik balas membalas komentar, datanglah seorang perempuan cantik dan lugu, sebut saja namanya Ana Faicah, ia menulis dalam komentarnya begini: Waduh Parahhhhhhh...........

Saya balas komentarnya: Pemaknaan kata crut dan crot bagi orang-orang yang belum sampai maqomnya kadang dianggap berlebihan atau parah, padahal crut dan crot itu asal muasal dari sebab kehidupan di dunia......ha..ha..ha..ha..ha. Betul begitukan Afnan Hidayat Co’minx???

Oh ya perlu Anda diketahui, bahwa Afnan Hidayat merupakan seorang kawan lama saya sewaktu menumpuh pendidikan S1 jurusan Filsafat. Dengan mantap dan yakin ia menimpali komentar saya layaknya seorang filsuf ternama di era Yunani Kuno, begini isi komentarnya: Itulah hebatnya orang yang berpetualang di dunia filsafat yang mendekati nilai-nilai kesufian. Selalu berbicara etika dan estetika.....melihat orang telanjangpun tidak akan tergoda, bahkan bisa menjadi syair yang indah.......

Karena membaca komentar Afnan Hidayat, seketika itu juga pikiranku menerawang jauh nan disana, terbayang sosok Afnan Hidayat sedang telanjang bulat, tentu saja aku membacanya sambil tertawa geli, jijik dan enggilani pool, oleh karena itulah aku balas komentarnya dengan nada bercanda: Kalau melihat Afnan Hidayat telanjang ya jelas saya nggak nafsu, apalagi tergoda.....aku ini masih normal meng.....wkwkwkwk

Ana Faichah bertanya dan mungkin bisa dikatakan ia sedang menguji kemampuan saya, karena saya tau ia seorang wanita yang chafidzoh (hafal al-Qur’an). Perlu Anda ketahui juga, bahwa ia merupakan teman lama saya sewaktu di pondok pesantren di daerah Jombang. Begini   pertanyaannya: Memang ada dalam al-Qur’an kata-kata itu.....xixixixi

Saya menjawab: Kata “crut” dan “crot” itu termasuk katagori “bil ghoibi”, samar adanya, namun wajid dipercaya.....wkwkwkwk

Ana Faichah ini termasuk wanita yang saya kenal smart, jadi saya tidak heran kalau ia sangat pandai memberikan kesimpulan atas jawaban saya, begini kesimpulannya: Ghoib, tapi nyata adanya....he..he..he..he

Afnan Hidayat: Intinya ngeri-ngeri sedap, bisa menjerumuskan dan juga menambah pahala

Sayapun memberikan kata penutup sebagai tanda berakhirnya diskusi panjang dan melelahkan ini, begini kata-katanya: Crut dan Crot juga bisa bikin merem melek bagi mereka yang merasakannya............

Lalu kalau menurut Anda kira-kira apa makna yang pantas bagi kata crut dan crot??? Monggo dijawab sesuai keahlian dibidangnya masing-masing dan tidak menutup kemungkinan diskusi ini kita buka kembali...he..he..he..he..he..he.

Kalau membaca isi diskusi diatas, mungkin sebagian dari Anda berpikir bahwa isi diskusinya hanya sekedar bercanda tanpa ada makna, tidak ada hal yang menarik dan berbobot di dalamnya. Tapi bagi saya pribadi diskusi ini cukup menarik, hal ini mengingatkan saya atas QS. Al-Hujurat 13: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku -suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal...

Nah, apakah ayat Al Hujurat 13 gampang diterapkan? mengingat setiap suku mempunyai kebudayaan, bahasa dan logat yang bila kita tak mau saling mengenal bahan budaya ini, pasti akan mudah terjadi salah paham karena ada kesalahan pembahasan.

Faktanya, dengan istilah yang sama, ternyata walau satu region akan terjadi perbedaan makna. Ambil contoh kata " ditiliki ". Ditiliki bagi orang Malang bermakna dicicipi (lidah). Tetapi bagi orang Jawa tengah bermakna dilihat (mata). Walau keduanya berumpun ke maksud "diperiksa". Misalnya, saya asli Malang Jawa Timur, istri Semarang jawa Tengah. Suatu saat tiba - tiba mertua teriak "hib...tuh anakmu di belakang lagi be'ol...mbok ya ditiliki duluuuu...dari tadi panggil-panggil kamu..."

Nah lho!!!!
Lha kalau saya hanya mengikuti bahan pengetahuan pribadi tanpa ada kemauan mengenal bahasa orang lain, apa hal sepele semacam ini bukannya tidak mungkin menjadi perpecahan rumah tangga? Dari hal-hal salah paham akan penggunaan bahasa inilah yang sering menjadikan perpecahan dalam urusan takwa. Padahal takwa adalah urusan takut kepada Allah, bukannya menakut-nakuti orang lain. Apalagi mengkafirkan dan mensesatkan yang lain.

Persoalan budaya bila kita tak mau mengamalkan ayat al-Hujurat 13 kadang membuat manusia menjadi orang-orang stereotype, apriori dan sinis. Misalnya, dan yang paling krusial baru-baru ini ada istilah Islam Nusantara. Pada umumnya orang yang ingin memurnikan ajaran Islam akan menghakimi istilah ini. Padahal nalar sederhananya adanya istilah tersebut karena sebuah landasan ayat al-Hujarat 13 tadi. Dengan kata lain Islam mewajibkan mengenal budaya setempat dimana seseorang akan berdakwah.

Yang lucu juga kita menganggap Islam Nusantara diajarkan oleh wali tanah Jawa alias wali songo. Padahal wali songo sendiri berasal dari keturunan Cina dan jazirah Arab (kecuali Sunan Kalijogo). Pointnya, para wali tidak mungkin mengajarkan kenusantaraan karena para beliau bukan orang nusantara. Dan tidak pula memaksakan Kearaban atau Kecinaannya. Yang ada hanyalah keislaman yang ditanamkan dan disesuaikan tanah yang dipijak.

Jadi di sinilah letak kebesaran walisongo karena mau menjadi Jawa agar kelak orang menganggap Islam ya Jawa, jawa ya Islam. Alias Islam bukanlah hal asing. Terbukti orang yang lahir di Jawa rata-rata otomatis mulai kecil merasa dirinya Islam, bukan agama lain. Yang masih sering terjadi Ketika seorang berdakwah dengan cara Jawa, pasti dianggap ajaran Kejawen, bukan Islam murni. Lha tapi ketika pengkritiknya diajak bahasa Arab full supaya lebih terlihat Islami, ndhilalah ternyata juga nggak ngerti. Dan juga apakah jaman dulu ada bahasa Indonesia? Gak ada kan? Nah, serba salah kan ?

Haduh...begitu rumitnya beragama....sampai-sampai sholat yang intinya adalah shilatun-sambungnya tali hati kepada Allah menjadi tali rumit yang tak jelas sambungannya. Apa kerumitan ini karena kebanyakan buat mentali-ikat berbagai macam ilmu tadi ya????