Senin, 07 Maret 2016



HYPNOPARENTING: MELATIH KEDISIPLINAN PADA ANAK
Apa kabar para orang tua yang kreatif..........

Artikel kali ini membahas tentang membangun kedisiplinan yang efektif pada diri anak. Bagian dari pola pengasuhan yang paling menantang bagi setiap orang tua adalah disiplin.

Ada banyak orang tua yang berpikir bahwasanya kedisiplinan hanya perlu dilakukan saat seorang anak melakukan suatu kesalahan, memberikan hukuman bahkan terkadang sampai menyakitkan merupakan cara yang di anggap paling efektif untuk melatih kedisiplinan seorang anak.

Kesalahan atau kepercayaan tersebut membuat banyak para orang tua memukul, mencubit, berteriak, menghina dan mempermalukan anak-anak mereka karena menganggap bahwa cara-cara itu merupakan cara yang efektif untuk mengajari mereka berprilaku. Hal ini adalah alasan umum mengapa anak-anak mengalami kekerasan di rumah, padahal seharusnya rumah baginya merupakan tempat yang nyaman dan mengasyikkan.

Dibutuhkan proses untuk bisa membangung karakter positif bagi setiap pribadi dan setiap proses tentu membutuhkan waktu dan tahapan yang setiap anak bisa berbeda-beda. Jadi menurut hemat penulis, bahwa disiplin akan efektif jika sifatnya ramah, menghargai, dan sensitif.

Ramah berarti tanpa adanya kekerasan dan menyenangkan bagi anak-anak. Misalkan, jika anak sulit untuk diajak mandi, pancing (rayu/ bujuk) dengan ajakan bermain gelembung sabun atau yang lainnya. Yang terpenting lagi upayakan saat sianak menjelang tidur berikan dongeng tentang akibat tidak perna mandi. (bukan malah ngomel-ngomel tidak jelas setiap kali anak menolak disuruh mandi, seperi orang kesurupan.....hehehehe)
Menghargai setiap prilaku positif sesuai dengan tahapan dan kemampuan anak. Menghargai artinya menampakkan kebanggaan kita sebagai orang tua di saat anak berprilaku positif. Misalnya memberikan pujian dan peluk cium saat si anak meletakkan piring kotornya ke tempat cuci piring atau membuang sampah pada tempatnya. “Woh....pinternya anak bunda udah bisa taruh piring ke dapur...” (hindari tuntutan, “Aduh....kok cuma ditaruh, apa nggak sekalian di cuci....!!!).

Sensitif dalam artian bahasa yang kita gunakan mudah dimengerti dan dipahami, hal ini bisa dilakukan dengan dengan contoh-contoh kejadian yang nyata namun tidak menakut-nakuti (mengancam). Misalkan, “Lihatlah nak, bunga kita layu dan kering, karena sudah 2 hari tidak disiram. Seperti kita kalau dua hari nggak makan dan minum tentu badan kita jadi lemas, sehingga tidak bisa main bahkan bisa sakit” (tahan diri untuk mengeluarkan kalimat: “Waduh....kakak lupa nyiram bunganya ya, nih lihat tanamannya jadi layu....”)

Para orang tua yang kreatif..............
Meskipun banyak orangtua dibesarkan dengan hukuman yang kasar, sehingga mereka mengalami kesulitan untuk  membayangkan apa yang dimaksud dengan disiplin yang ramah, penuh penghargaan  dan sensitive.
Kita semua bisa menjadi orang tua yang lebih sabar dan telaten dalam membangun karakter disiplin bagi buah hati tercinta, semoga artike ini bermanfaat untuk kita semua para orang tua dan calon orang tua.