Sabtu, 05 September 2015



PENDEKAR SAKTI



Pendekar Sakti. Ya kali ini saya tidak seperti biasanya yang menulis suatu artikel tentang pengetahun Hipnotis, Hipnoterapi, Meditasi, Tenaga Dalam atau Meraga Sukma (Astral Projection). Mungkin karena lamunan kerinduanku pada sosok almarhum Ayah, aku teringat akan kebersamaan bersama beliau. Masing teringat betul dalam ingatanku, almarhum Ayahku suka menceritakan hal-hal yang bersejarah dalam kehidupannya dimasa lalu, dan hal inilah yang menggelitik pikiranku untuk menulis cerpen tentang cerita Ayah yang mengkisahkan tetang Cak Mustaqim, agar terkesan cerpen ini berhubungan dengan website yang ada, maka judul cerpen ini aku beri judul PENDEKAR SAKTI.   

Lansung aja ya.........
Mendengar cerita-cerita tentang tokoh yang akan aku ceritakan ini, baik dari Ayah atau kawan-kawannya seangkatan di pesantren, aku diam-diam mengaguminya. Bahkan seringkali aku membayangkannya seperti Superman, Spiderman, atau si pesulap David Copperfield. Wah, seandainya aku berkesempatan bertemu dengannya dan dapat satu ilmu saja, lamunku selalu. Ayah maupun kawan-kawannya selalu menyebutnya dengan Cak Mustaqim. Tidak ada yang menyebut namanya saja. Boleh jadi karena faktor keseniorannya atau karena ilmunya

Kiai Kholik, guruku ngaji Quran dan salah seorang kawan Ayah di pesantren, paling semangat bila bercerita tentang Cak Mustaqim. Aku dan kawan-kawanku paling senang mendengarkannya, apalagi Kiai Kholik bila bercerita tentang tokoh yang dikaguminya itu acapkali sambil memperagakannya. Misalnya ketika bercerita bagaimana Cak Mustaqim dikeroyok para begal, Kiai Kholik memperagakan dengan memperlihatkan jurus-jurus silat. "Cak Mustaqim itu pendekar yang ilmu silatnya komplit," katanya terengah-engah.

"Yang saya peragakan itu tadi jurus silat Cibadak. Jurus yang digunakan Cak Mustaqim membekuk tujuh begal yang mencegatnya di perjalanan. Tujuh orang dan Cak Mustaqim sendirian. Bayangkan! Kami sendiri, saya dan beberapa kawan yang berminat, setiap malam Jumat dia ajari jurus-jurus silat dari berbagai cabang. Tapi mana mungkin bisa seperti dia? Dia itu bahkan mempunyai ilmu cicak. Bila sedang bersilat, bisa nempel dan merayap di dinding."

Ayah sendiri sering juga bercerita tentang Cak Mustaqim, tapi tidak dengan memperagakannya seperti Kiai Kholik. "Nggak tahu, dia itu ilmunya dari mana?" kata Ayah suatu hari ketika sedang bercerita tentang kawannya yang disebutnya jadug itu. "Di samping menguasai ilmu silat, ilmu hikmahnya aneh-aneh. Hanya dengan merapalkan bacaan aneh campuran bahasa Arab dan Jawa, dia bisa membuat tidur seisi mushalla. Pernah dia menjadi tontonan orang sepasar gara-gara dia dihina penjual lombok lalu lombok satu pikul dimakannya habis. Dia tidak apa-apa, tapi penjualnya kemudian yang murus. Kata kawan-kawan, dia juga bisa memanggil burung yang sedang terbang di udara dan ikan di dalam sungai."

"Kata Kiai Kholik, Cak Mustaqim juga bisa menghilang, betul Yah?" tanya saya. Ayah tersenyum dan pandangannya seperti menerawang ke masa lalunya. "Pernah beberapa kawan diajarinya ilmu panglimunan entah apa. Pokoknya ilmu untuk menghilang. Mereka disuruh puasa tujuh hari mutih, dan satu hari pati geni, artinya bukanya hanya dengan nasi tanpa lauk apa-apa. Lalu ada satu malam ngebleng, semuanya tidak boleh tidur sama sekali. Ayah juga ikut."

Ayah berhenti sejenak, tersenyum-senyum sendiri, mungkin terbawa kenangan masa lalunya, baru kemudian melanjutkan ceritanya. "Dari sekian orang yang ikut program panglimunan itu, hanya Ayah yang gagal. Ayah tahu kalau gagal, ketika ilmu itu dipraktikkan. Hari itu, kami beramai-ramai, di bawah pimpinan Cak Mustaqim sendiri, datang ke toko Cina yang terkenal paling galak di kota Gresik. Cak Mustaqim berpesan siapa pun di antara kami yang nanti di toko masih melihat orang lengkap dengan kepalanya, jangan sekali-kali mengambil sesuatu. Karena tandanya kalau kami sudah benar-benar hilang, tidak terlihat orang, yaitu apabila kepala semua orang tidak tampak. Dan ingat, kata Cak Mustaqim, kita bukan niat mencuri tapi mengamalkan ilmu. Jadi ambil barang seadanya dan yang murah-murah saja."

Ayah berhenti lagi, tersenyum-senyum lagi, baru sejurus kemudian melanjutkan. "Wah, saya lihat waktu itu kawan-kawan ada yang mengambil sabun, ada yang mengambil potlot, sisir, minyak rambut, dan lain-lain. Kholik, guru Quranmu itu, malah sengaja mengambil manisan yang terletak persis di depan Cina pemilik toko yang galak itu. Anehnya, baik si pemilik toko maupun pelayan-pelayannya, seperti tidak melihat apa-apa. Setelah mengambil barang-barang itu, kawan-kawan ngeloyor begitu saja dan tak ada yang menegur.

Saya yang malah ditanya Cak Mustaqim, kenapa saya tidak mengambil apa-apa? Saya menjawab bahwa saya masih melihat kepala semua orang yang ada di toko. Jadi, sesuai pesan Cak Mustaqim sendiri, saya tidak berani mengambil apa-apa. 'Sampeyan kurang mantap sih!' komentar Cak Mustaqim. Memang terus terang, waktu itu sebelum menyaksikan sendiri adegan di toko itu saya tidak percaya ada ilmu panglimunan, ada orang bisa menghilang, cetus Ayahku.

Tiba-tiba dari kejahuan, terdengar suara ibu......

Ya, Ayah ada tamu..!!!

"Ada tamu ya, Bu?!" tanyaku kepada ibuku yang sedang sibuk membenahi kamar tamu.

"Ya", jawab ibu tanpa menoleh

"Kawan lama Ayahmu di pesantren. Beliau akan menginap beberapa malam. Mungkin mau kangen-kangenan sama Ayahmu. Dengar itu, tawa mereka."

"Ya, asyik benar tampaknya," timpalku.

"Tamu dari mana sih, Bu?"

"Kata Ayahmu tinggalnya sekarang di luar Jawa. Namanya Mustaqim atau siapa?!"

"Mustaqim?" tanya aku setengah berteriak.

"Ee, jangan berteriak!" bisik ibu.

Tapi aku sudah bergegas meninggalkannya. Dari gorden jendela aku mengintip ke ruang tamu. Sekejab aku jadi ragu-ragu. Tamu Ayah tidak seperti yang aku bayangkan. Tidak gagah, malah terlihat kecil sekali di depan Ayahku. Kurus lagi. Ah, jangan-jangan ini bukan Mustaqim sang pendekar yang sering diceritakan Kiai Kholik. Masak kerempeng begitu. Tapi setelah nguping, mendengar pembicaraan Ayah dan tamunya itu sebentar, aku menjadi yakin memang itulah sang Superman, Cak Mustaqim. Apalagi tak lama kemudian Kiai Kholik datang dan saling berpelukan dengan si tamu. Nanti malam, aku harus menemuinya, kataku mantap dalam hati. Aku harus mendapatkan salah satu ilmu hikmahnya.

Kebetulan sekali, malam ketika Ayah akan mengajar ngaji, aku dipanggil dan katanya, "Kenalkan, ini kawan Ayah di pesantren, Cak Mustaqim yang sering Ayah ceritakan! Kawani dulu beliau sementara Ayah mengaji." Begitu Ayah pergi, aku segera menjabat tangan orang yang selama ini aku idolakan. Beliau menerima tanganku dengan menunduk-nunduk penuh tawadluk.

"Gus, putra ke berapa?" tanyanya dengan suara lembut.

"Nomor dua, Kiai!" jawabku sambil terus mengawasinya.

"Jangan panggil saya kiai!" katanya bersungguh-sungguh. "Saya bukan kiai. Saya memang pernah mondok di pesantren bersama Ayahanda Gus, tapi tidak seperti Ayahanda Gus yang tekun belajar. Saya di pesantren hanya main-main saja."

Aku tidak begitu menghiraukan apa yang beliau katakan, aku sudah punya rencana sendiri dari tadi. Mengapa harus ditunda, inilah saatnya, mumpung hanya berdua. Kapan lagi?

"Bapak Mustaqim," kata saya sengaja mengganti sebutan kiai dengan bapak, "sebenarnya saya sudah lama mendengar tentang Bapak, baik dari Ayah maupun yang lain. Sekarang mumpung bertemu, saya mohon sudilah kiranya Bapak memberi ijazah kepada saya barang satu atau dua dari ilmu hikmah Bapak."

Mendengar permohonan saya, tiba-tiba tamu yang sejak lama aku harapkan itu menangis. Benar-benar menangis sambil kedua tangannya menggapai-gapai.

"Jangan, jangan, Gus! Gus jangan terperdaya oleh cerita-cerita orang tentang bapak. Apalagi kepingin yang macam-macam seperti yang pernah bapak lakukan”.

“Biarlah yang menyesal bapak sendiri. Jadilah seperti Ayahanda saja. Belajar, ngaji yang giat. Dulu Ayahanda Gus pernah sekali ikut dengan kegilaan masa muda bapak, tapi gagal. Mengapa? Bapak rasa karena Ayahanda memang tidak serius. Beliau hanya serius dalam urusan belajar dan mengaji. Dan sekarang, lihatlah bapak dan lihatlah Ayahanda Gus! Ayahanda Gus menjadi kiai, sementara bapak lontang-lantung seperti ini. Kawan-kawan bapak yang dulu ikutan bapak mendalami ilmu-ilmu kanuragan seperti ini rata-rata kini hanya jadi dukun. Ini masih mendingan, ada yang malah menggunakan ilmu itu untuk menipu masyarakat dengan mengaku-aku sebagai wali dan sebagainya. Orang awam yang tidak tahu, mana bisa membedakan antara karomah dan ilmu sulapan seperti itu?"

Aku tidak bisa ceritakan perasaanku melihat orang yang selama ini kukagumi menangis. Masih terdengar sesekali isaknya ketika beliau melanjutkan.

"Ayahanda dan Kiai Kholik pasti tak pernah cerita bahwa bapak ini pernah dinasihati seorang singkek tua. Karena memang bapak tak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Sekarang ini bapak ingin menceritakannya kepada Gus. Mau mendengarkan?"

Saya hanya bisa mengangguk.

"Pernah dalam suatu perjalanan bapak, bapak kehabisan sangu. Bapak pun mampir ke sebuah toko milik seorang singkek yang sudah tua sekali. Begitu masuk toko, bapak rapalkan aji panglimunan bapak. Semua pelayan dan pelanggan yang ada tak ada yang bisa melihat bapak. Bapak langsung menuju ke meja si singkek tua yang terlihat terkantuk-kantuk di kursi tingginya. Pelan-pelan aku buka laci mejanya, tempat ia menyimpan uang. Bapak ambil semau bapak. Si singkek tua tidak bergerak. Namun begitu tangan bapak akan bapak tarik dari laci, tiba-tiba tangan keriput si singkek tua memegangnya dan langsung seluruh tubuh bapak lemas tak berdaya”.

'Ilmu begini, kok kamu pamel-pamelkan,' katanya hampir tanpa membuka mulut. "Ini yang kamu peloleh sekian lamanya belajal, he?! Kasihan kamu olang! Ilmu mainan anak-anak begini untuk apa? Paling-paling buat gagah-gahahan ha. Siapa yang nganggep kamu gagah? Anak-anak kecil sama olang-olang bodoh dan olang-olang jahat saja ha! Ada olang pintel kagum sama kamu olang? Ada? Siapa? Olang hidup apa nyang dicali? Olang hidup cali baik buat dili sendili, kalau bisa buat olang lain. Cali senang sendili, jangan bikin susah olang lain ha!”.

Pendek kata, habis bapak dinasehati. Setelah itu bapak dikasih uang dan disuruh pergi. Sejak itulah bapak tidak pernah lagi mengamalkan ilmu-ilmu gila bapak. Nasihat yang bapak dapat dari singkek tua itu sebenarnya hanyalah memantapkan apa yang lama bapak renungkan tentang kehidupan bapak, tapi bapak selalu ragu."

Pak Mustaqim memegang kedua tanganku penuh sayang. Katanya kemudian, "Kini bapak sudah mantap. Jalan yang bapak tempuh kemarin salah. Mestinya sejak awal bapak mengikuti jejak Ayahanda Gus. Karena itu, Gus, sekali lagi, ikutilah jejak Ayahanda dan jangan mengikuti jejak bapak ini. Carilah ilmu yang bermanfaat bagi diri Gus dan bagi sesama!. Ilmu (baca. Kelebihan) semacam itu akan datang dengan sendirinya, walaupun Ayahanda Gus tidak perna ikut-ikutan belajar sesat seperti bapak, namun toh akhirnya Ayahanda Gus memiliki kelebihan juga, terbukti banyak tamu yang meminta bantuan kepada Ayahanda Gus, itu barangkali yang di sebut dengan karomah”. 

Aku tidak sempat memberi komentar apa-apa karena keburu datang Kiai Kholik dan beberapa tamu kawan lamanya yang lain. Tapi aku masih mempunyai banyak waktu untuk merenungkan nasihatnya.