Minggu, 27 September 2015




HUBUNGAN INTIM PALING NIKMAT



Dalam Kitab Romantisme Kuno (Kamasutra), hubungan intim suami istri bukan hanya sekedar memenuhi hasrat biologis hewani, namun juga sarana untuk mencapai kesempurnaan atau kepuasan batin. Dalam hubungan intim suami istri, orgasme merupakan salah satu tujuannya, dan orgasme yang cerdas ditinjau dari sisi spiritual adalah orgasme yang bisa mengantarkan seorang suami atau istri untuk lebih mengenal dan mensyukuri nikmat Allah berupa setetes kenikmatan surgawi (hubungan intim), sehingga orgasme dijadikan sarana untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Tuhan.

Sekarang timbul pertanyaan kepada para suami atau istri, apakah selama ini orgasme atau puncuk kenikmatan Anda saatu melakukan hubungan intim suami istri, sudah mampu mengantarkan Anda lebih dekat dengan Tuhan??? 

Dalam aspek spiritual, orgasme biologi yang membuat sesorang mengalami berbagai sensasi rasa nikmat tiada tara, yang kenikmatannya tidak bisa diungkap dengan kata-kata, hal ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan orgasme spriritual yang kenikmatannya jauh lebih nikmat, jauh lebih indah, dan jauh lebih sempurna ketika seseorang hamba merasakan kesatuan (ittihad) dengan Sang Kekasih. Puncak dari segala puncak kenikmatan hamba manakala ia bisa merasakan kedekatan diri, apalagi ittihad/dengan Tuhannya.

Foreplay (stimulus atau rangsangan) yang sering dilakukan saat melakukan hubungan intim suami istri dengan maksud agar memperolah puncak kenikmatan biologis, hal ini juga berlaku saat sesorang hamba ingin merasakan kenikmatan orgasme spiritual, yaitu dengan melakukan rangsangan (foreplay) yang dalam bentuk riyadhah atau meroqobah, semacam spiritual exercises.


Layaknya ketika seseorang hendak melakukan hubungan intim suami istri, membersihkan badan, pakaian, dan mulut adalah ritual awal sebelum foreplay dimulai agar tercipta suasana romantis untuk mendukung keakraban, kemesraan, dan merasa saling memiliki, begitu juga ketika seorang hamba hendak mendekatkan diri pada Tuhannya, maka mensucikan badan dari najis dan pembersihan dosa dengan tobat merupakan salah satu syaratnya agar seorang hamba merasa dekat, bersatu, dan menyatu dengan Tuhannya.

Ketika seorang suami istri melakukan hubungan intim, selayaknya keduanya harus fokus untuk saling memberikan rangsangan dan kebahagiaan kepada pasangannya, agar suami istri merasakan puncak kenikmatan secara bersama-sama. Demikian halnya seorang hamba diminta untuk khusuk dalam menjalankan ibadahnya, agar sisa-sisa kenikmatan dan kesyahduan orgamse spiritual itu masih terasa seusai seorang hamba menjalankan ibadahnya.

Seusai menjalankan hubungan intim suami istri, seorang suami dan istri tidak dianjurkan langsung meninggalkan pasangannya atau tidur mendengkur disampingnya, agar sisa-sisa kenikmatan orgasme biologis tidak sirna begitu saja. Sama halnya ketika seorang hamba seusai melaksankan ritual ibadah, tidak dianjurkan juga langsung berkemas meninggalkan tempat ibadah atau sajadah, seorang hamba diminta untuk terus berdzikir, agar sisa-sisa kenikmatan itu terus terasa.

Itulah sebabnya, secantik, semulus dan sebahenol apa pun bidadari di surga, tidak membuat seorang hamba Tuhan (Sang Kekasih Allah) bergeming atasnya, karena puncak kepuasan di surga bukan mendapatkan atau berhubungan intim dengan para bidadari cantik, bukan pula mengkonsumsi aneka ragam makanan dan minuman, dan juga bukan berbagai fasilitas atau perhiasan yang ada di dalamnya, namun puncak kebahagiaan dan kenikmatan itu adalah “melihat” Allah. 



Mengapa seseorang seusai melakukan hubungan badan (suami-istri) diwajibkan mandi junub??? Ibnu ‘Arabi seorang sufi ternama dijamannya, memberikan penjelasan menarik dalam kitab “Futuhat al-Makkiyyah” tentang rahasia dibalik mandi junub. Menurut Ibn ‘Arabi, mandi junub adalah salah satu bentuk pengungkapan penyesalan seorang hamba terhadap Tuhannya, setelah yang bersangkutan melupakan Tuhannya karena menikmati orgasme biologis. Ia harus mandi junub atau mensucikan dirinya kembali agar peluang untuk mencapai kepuasan spiritual tidak terdistorsi dengan kenikmatan dan kepuasan biologis yang baru saja di lakukan.

Itulah sebabnya, Islam sangat menganjurkan agar berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri. Doa itu langsung diredaksikan sendiri oleh Nabi Muhammad, yang artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah kami dari pengaruh setan dan jauhkan pula pengaruhnya terhadap rezeki yang engkau anugerahkan kepada kami.”