Jumat, 25 September 2015


HIPNOTERAPIS SEBAGAI LADANG AMAL KEBAIKAN


Artikel ini saya beri judul “Hipnoterapis Sebagai Ladang Amal Kebaikan”, tulisan ini terinspirasi dari Hadist Nabi yang artinya:

“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Dari Hadits diatas dapat disimpulkan, apabila kita mengetahui bahwa sebenarnya kita mampu berbuat sesuatu untuk menolong kesulitan orang lain, maka segeralah lakukan dan segeralah memberikan pertolongon. Terlebih lagi bila orang itu telah meminta kita untuk menolongnya. Dan sungguh Allah sangat mencintai orang yang mau memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan menghapuskan kesulitan orang lain.  

Sangatlah relevan apabila hadits diatas dihubungkan atau kaitkan  dengan profesi seorang hipnoterapis karena salah satu fungsi dari profesi seorang hipnoterapis adalah menolong atau membantu meringankan beban penderitaan orang lain, terutama beban masalah, penyakit, penderitaan yang berkaitan dengan pikiran.  

Selain hadits diatas, ada juga hadits nabi yang juga relevan dengan profesi seorang hipnoterapis, yang artinya :

Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau: “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai dari pada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan” (Hadits riwayat Thabrani). 


Perhatikan juga sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini yang menerangkan bahwa membantu orang yang susah lebih baik dari pada ibadah umrah, yang artinya:

”Siapa yang berjalan menolong orang yang susah maka Allah akan menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu malaikat yang selalu mendoakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah selama dia menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah dan sesiapa yang mengunjungi orang yang sakit maka Allah akan melindunginya dengan tujuh puluh lima ribu malaikat dan tidaklah dia mengangkat kakinya melainkan akan dituliskan Allah baginya satu kebaikan, dan tidaklah dia meletakkan tapak kakinya untuk berjalan melainkan Allah angkatkan daripadanya, Allah akan ampunkan baginya satu kesalahan dan tinggikan kedudukannya satu derajat sampai dia duduk disamping orang sakit, dan dia akan tetap mendapat rahmat sampai dia kembali ke rumahnya ” (HR Thabrani ).

Masih banyak hadits-hadits Nabi yang menjelaskan tentang keutamaan membantu meringankan beban orang lain yang tidak mungkin saya tulis satu persatu. Dan setelah kita mengetahui keutamaan membantu dan meringankan kesulitan orang lain, masih enggankah kita memberikan bantuan dan meringankan kesulitan orang lain? Terlebih lagi bila orang yang kesulitan, telah meminta langsung pertolongan kepada kita, pantaskah kita sebagai orang beriman mengabaikan permintaan pertolongan yang dimohonkan? Padahal kita mempunyai kemampuan dan kesanggupan untuk membantunya.

Apakah kita akan mengabaikan kesempatan berbuat amal kebaikan dan menghilangkan kesempatan menjadi hamba yang dicintai Allah karena keengganan kita membantu saudara semuslim yang sedang kesulitan dan meminta pertolongan dari kita? Apa yang membuat kita menjadi enggan memberikan pertolongan, bukankah semua, segala sesuatu yang kita miliki sebenarnya dari Allah, lalu mengapa saat Allah mengirimkan hamba-Nya yang kesulitan datang pada kita, kita berpaling dan tidak menghiraukan?

Janganlah mengundang kesulitan dalam hidup kita, jangan mempersempit urusan kita, dan jangan mengundang azab dan murka Allah. Tapi undanglah kemudahan, kelapangan urusan, cinta, kasih sayang dan pertolongan dari Allah, dengan memberikan bantuan, pertolongan kepada orang yang membutuhkannya. 



Di sinilah peran sebagai seorang hipnoterapis sangat dibutuhkan dalam memberikan solusi, meringankan beban masalah yang menimpa orang-orang disekelilingnya. Kalau dilandasi dengan niat tulus dalam membantu, maka profesi hipnoterapis sebagai salah satu profesi yang sangatlah bisa berkesempatan mendapatkan tiket masuk surga-Nya dan yang terpenting dari ini semua adalah apapun profesi kita, dijalankan dengan ketulusun, diniatkan karena ibadah, maka hal itu merupakan wujud sarana kita untuk menggapai ridho-Nya tuk menujuh surga-Nya.

Apapun yang kita lakukan dan kerjakan, semuanya tergantuk pada niat (Innama A'malu Binniat). Dan selebihnya Wa Allah A'lam Bisshoaf. Semoga bermanfaat untuk banyak ummat. Amin-amin ya robbal ‘alamin