Selasa, 04 Agustus 2015



Pengobatan Alexander Terapi Pelepasan Pemasangan Baju Besi Pelindung. Kebanyak dari kita secara tak sadar memakai baju besi pelindung dalam berhubungan dengan lingkungan kita. Sikap semacam ini menyulitkan kita dan sering membuat diri kita merasa cemas, terkucil, depresi, dan tak ada yang menyangi diri kita. 

Sikap memasang baju besi pelindung seperti ini merupakan prilaku yang benar-benar tak disadari yang mungkin telah berlangsung sejak awal masa kanak-kanak, atau mungkin bahkan sejak masih bayi. Tapi kebiasaan itu bisa kita tiggalkan saat ini degan cara melakukan pengamatan terhadap diri sendiri dengan cermat. Kita bisa menanggalkan kebiasaan kita menggunakan ketegangan yang berlebihan dalam pikiran-pikiran, gerakan-gerakan, dan hubungan-hubungan kita.

Melepaskan Pemasangan Baju Besi Pelindung
Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan sedikit tentang cara “melepasakan pemasangan baju besi pelindung” dengan menggunakan teknik pengobatan Alexander.

Teknik pengobatan Alexander merupakan suatu metode yang praktis dan sederhana dalam usaha belajar untuk memusatkan perhatian pada bagaimana  kita mempergunakan diri kita sendiri dalam mejalani aktivitas sehari-hari.

Teknik pengobatan Alexander ini didasarkan pada sikap tubuh yang benar, sehingga tubuh kita mampu berfungsi secara alami dan dengan jumlah usah otot yang minimal. Teknik pengobatan Alexander ini sepenuhnya tak berbahaya, dengan teknik pengobatan Alexander ini mampu mendorong terciptnya keadaan yang seimbang antra jiwa dan tubuh dan juga sangan membantu menghilangkan sejumlah gangguan, seperti pusing dan nyeri punggung.
Seorang trainer pemberdayaan diri yang biasa mengisi berbagai acara seminar atau workshop dari kota satu ke kota yang lain datang ke tempat saya, dan menceritakan keluhanyaa kepada saya. Bahwa dalam setiap mengisis acara, ia sering terkendala dengan kehilangan suara.

Saya sarankan ia menggunakan teknik pengobatan Alexander. Setelah menggunakan teknik pengobatan ini, ia menyadari bahwa memaksakan diri untuk setiap mengingat apa yang harus dilakukan dan harus mengeraskan suaranya sehingga penonton yang berada dikejahuan memapu mendengarkan suaranya ternyata yang mengakibatkan dirinya sangat tertekan dan cara dirinya memberikan reaksi terhadap tuntutan itu merupakan tindakan refleks yang cukup alami. Nyatanya, bahkan berpikir tentang harus mengeraskan suaranya saja mampu membuat gejla-gejala yang dialaminya muncul kembali dan dari situlah dia menyimpulan bahwa tentu ada hubungan yang erat   antara jiwa dan tubuh. Dia bertekad berusaha memperbaiki situasi itu dan lambat laun, dengan jalan menonton dan mengubah cara berdiri, dan sikap tubuh dan sikap mental terhadap penampilannya di panggun, kondisi-kondisinya ternyata membaik. Dia mampu beraksi dan berbicara di atas panggung dan menggunakan tubuhnya dengan cara yang alami dan lebih santai.