Minggu, 09 Agustus 2015



Hipnotis Bangkitkan Gairah Wanita....!!! kok bisa ya? mungkin begitulah judul yang pas buat artikel kali ini.

Banyak berita seputar kejahatan hipnotis di berbagai media massa, hingga memunculkan berbagai persepsi masyarakat tentang ilmu hipnotis.  

Banyak miskonsepsi yang harus saya jelaskan terlebih dahulu tentang hipnotis atau hipnotisme. Artikel ini akan mengupas tuntas kebenaran atau fakta ilmu hipnotis yang mungkin sangat jarang sekali Anda temukan di luar sana. Artikel ini khusus mengungkap tabir ilmu hipnotis dalam tindak kejahatan seksual atau pencabulan.

Perlu Anda ketahui, bahwa hipnotis  tidak dapat memaksakan kehendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan etika dasar atau moral dari seseorang.

Lalu timbul pertanyaan, kalau hipnotis tidak dapat memaksa kehendak dari seseorang yang bertentangan dengan etika dasar, lantas kenapa ada wanita bisa dijadikan korban seks atau cabul dengan mengatasnamakan ilmu hipnotis?

Pikiran kita disusun dengan sedemikan rupa, ada dua fungsi besar pembagian pikiran, yakni Pikiran Alam Sadar dan Pikiran Alam Bawah Sadar. Sesuatu hal berpotensi masuk ke bagian Pikiran Alam Sadar dan Pikiran Bawah Sadar melalui panca indera (visual, audio, kinesthetik, gustatory, dan olfactory). Seiring pertumbuhan dan pengalaman, pikiran kita mengembangkan kemampuannya untuk berpikir rasional dan kritis. Hal tersebut yang membuat kita mampu menimbang- nimbang dan mengambil keputusan.

Jadi ketika seseorang menghipnotis, sugesti yang disampaikan akan meluncur masuk ke dalam pikiran alam bawah sadar dan akan menciptakan reaksi yang sungguh benar-benar ajaib. Tapi tidak segampang itu sugesti di terima pikiran alam bawah sadar, karena sebelum sugesti diterima pikiran bawah sadar, ada proses di mana setiap sugesti yang masuk harus melalui critical area. 

Critical area adalah penampungan data sementara, dimana di tempat inilah data akan diproses berdasarkan analisa, logika, pertimbangan etika, dll. Keaktifan Critical Area berbeda-beda untuk setiap situasi dan kondisi, tergantung dari fokus, minat, dan emosi.

Dengan demikian sesuai penjelasan saya di atas, jadi seseorang yang mengaku korban hipnotis hingga melakukan hubungan seks atau perbuatan cabul, sudah dapat dipastikan bahwa sebenarnya korban sudah memiliki keinginan (minimal rasa penasaran) untuk melakukan perbuatan tersebut.

Seorang pelaku hipnotis hanya menggali, mengeksplorasi, memfasilitasi apa yang sudah ada terpendam di dalam pikiran bawah sadar korban. Pendeknya, kedua orang (penghipnotis dan korban) dalam kondisi mau sama mau.

Jika kondisi tersebut sudah tercipta, maka Sang Hipnotis bisa bereksperimen dengan apa saja melalui sugesti hipnotis yang power full. Sugesti tersebut akan mengirimkan gelombang relaksasi yang sangat menyenangkan atau rangsangan ke seluruh tubuh si korban. Tipe relaksasi seperti itu akan memicu reaksi kimia di otak yang membuat korban terangsang dan ingin melepaskan birahi, tanpa terkendali.

Jika sudah sampai pada titik ini, Sang Hipnotis bebas untuk membuatnya mengimajinasikan hal-hal erotis apapun yang bisa membuat aktifitas seks korban jauh lebih menyenangkan, termasuk membuatnya orgasme hanya lewat kata-kata dan berbagai keajaiban lainnya.

Hipnotisme untuk keperluan seks seperti di atas sangat mungkin dilakukan, bahkan saya menganjurkannya agar para pasangan sah (suami istri) berlatih menggunakannya untuk semakin meningkatkan kualitas hubungan seks mereka. Misalnya: Seorang suami dapat membantu istrinya untuk lebih mudah mengalami orgasme. Seorang istri juga dapat menggunakan hipnotis untuk membantu suaminya untuk mempertahankan ereksi dan menunda ejakulasi agar keduanya dapat bercinta dengan lebih lama.

Hipnotis semacam ini hanya bisa dipelajari dalam pelatihan-pelatihan hipnotis di “Griya Sang Hipnotis”. Jadi sekali lagi, mungkinkah hipnotis untuk seks dan cabul? Tentu saja, mungkin.

Demikan artikel ini, semoga bermanfaat................